Terima kasih ayah. Kau telah mengajarkan ku untuk bersyukur dan berusaha.
Ya bersyukur dengan apa yang telah diajarkan, bukan bersyukur dengan apa yang telah dimiliki.
Karna apa yang diajarkan akan selalu menjadi pengalaman hidup, menjadi tolak ukur cara untuk menyikapi segala macam rintangan yang dilalui.
Terkadang selalu datang pemikiran "kenapa tidak dilahirkan oleh keluarga yang lain? Keluarga yang memiliki segalanya dalam bentuk ekonomi. Keluarga yang memiliki 2 orang tua lengkap".
Tapi aku bersyukur keluarga ini mengajarkan aku bagaimana menjalani hidup. Bagaimana cara untuk selalu berusaha mengejar tujuan hidup. Yang selalu mengajarkan bagaimana melihat manusia yang bisa dijadikan sahabat.
Aku tidak pernah bersyukur dengan apa yang aku miliki, bukan karna sombong, tapi bersyukur dengan apa yang dimiliki sama saja hanya pasrah dengan apa yang dimiliki. Itu artinya kau tidak akan pernah berusaha untuk mengejar tujuanmu.
Terima kasih ayah, aku selalu berfikiran seperti anak kandung yang ditirikan. Aku tau itu bukan salahmu.Tapi aku tau kau berbuat seperti itu karna kau ingin menempah mental ini. Ya seperti yang dikatakan sahabatku ayah, didalam keluarga ada anak yang dijadikan "aset mental". Aku yakin kau memilihku untuk dijadikan "aset mental" mu.
Terima kasih karna mental ini aku selalu berusaha untuk bangkit ketika terpuruk, ketika mereka melihatku dengan sebelah mata, bahkan ketika dunia ini seperti enggan untuk menerima ku disetiap sudutnya.
Terima kasih ayah.
Terima kasih........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar